July 1st, 2008
Pada suatu malam antara maghrib dan isya’ di suatu masjid yang cukup terkenal di Bandung, tiba-tiba saya didatangi seorang pengurus masjid itu dan terjadilah percakapan antara saya (A) dengan pengurus masjid tersebut (sebut saja X)
Berikut ini cuplikan percakapan tersebut (kurang lebih, tapi intinya adalah):
X: Kenapa anda menggunakan tasbih?
A: Untuk menghitung waktu berdzikir
X: Kenapa anda tidak menggunakan tangan saja untuk menghitung? Berdzikir menggunakan tasbih itu TIDAK BOLEH, karena menyerupai alat ibadah agama lain (umat agama lain ada yang menggunakan tasbih atau alat hitung menyerupai tasbih) dan Nabi (Muhammad) dulu tidak menggunakan tasbih tapi menggunakan tangan.
A: Saya mudah lupa kalau menghitung pake tangan (hehehe maklum pelupa
), menurut saya, penggunaan tasbih boleh-boleh saja, kan cuma sebagai alat bantu saja. Dan saya akan tetap pake tasbih sebagai alat hitung berdzikir…
X: Kalau anda tetap pakai tasbih, sebagai pengurus masjid, saya melarang anda menggunakan tasbih di masjid ini. (Karena akan mempengaruhi jamaah yang lain menggunakan tasbih juga)
A: Baiklah…
Sejak saat itu, pada saat berdzikir di masjid itu saya tidak pernah pake tasbih lagi, biar tidak terjadi “hal-hal yang tidak diinginkan”
Dan saya jadi malas ke masjid itu lagi
Dalam hal ini, perbedaan pendapat yang terjadi sangatlah wajar, bagaimanapun juga, X ini adalah pengurus masjid, sedangkan saya adalah jamaah biasa
Saya menghormati keputusan X tersebut.
Menurut pendapat saya, tasbih yang saya gunakan untuk berdzikir sebagai alat bantu hitung (sederhana) yang mudah dibawa, digunakan. Terus terang saja, saya memang sering lupa kalau menghitung menggunakan tangan. Teknologi sederhana yang berupa tasbih kenapa tidak boleh digunakan. Bukannya dalam menjalankan ibadah, kita banyak juga yang menggunakan alat bantu (modern) yang juga digunakan oleh umat agama yang lain, atau malahan diciptakan oleh umat agama lain.
-bersambung- 
Posted in Corat-coret | 23 Comments »
June 24th, 2008
Saya sudah sangat sering mendengar kata istighotsah tapi belum tapi artinya. Malah tidak hanya mendengar, bahkan saya punya fotokopi bacaan istighotsah
Karena penasaran, akhirnya hari ini saya mencari arti kata istighotsah di google.com dan memperoleh jawaban bahwa arti istighotsah adalah memohon bantuan.
Memohon bantuan, bagus juga arti istighotsah. Menurut saya, fotokopian dibawah ini merupakan salah satu contoh bacaan saja. Pembaca dapat menambah atau mengurangi bacaan-bacaannya atau tidak melakukan perubahan sama sekali.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa zaman Nabi dulu tidak ada acara-acara istighotsah. Menurut pendapat saya, istighotsah adalah berdoa, lha wong artinya saja memohon bantuan/pertolongan (Allah), hal ini tidak jauh dengan berdoa yang bertujuan untuk memohon pertolongan Allah. Kenapa kok dilakukan Istighotsah Kubro? Namanya juga berdoa, memohon pertolongan Allah, lebih baik kalau dilakukan bersama-sama (berjamaah). Berdoa, istighotsah, dzikir, sholat, atau amal ibadah yang lain, akan lebih utama apabila dilakukan secara bersama-sama.

Posted in Corat-coret | 12 Comments »
June 21st, 2008
Pada suatu siang hari yang cerah di suatu persimpangan jalan ada seorang pemulung. Di persimpangan jalan, pemulung ini berhenti beberapa dan kelihatan berpikir akan memilih jalan yang mana, akankah melangkahkan kaki ke jalan disebelah kiri ataukah yang kanan. Kemudian pemulung ini memutuskan berjalan ke arah kiri. Setelah berjalan 2-3 langkah, pemulung ini berhenti dan berpikir kembali. Akhirnya, pemulung ini berbalik arah dan mengambil jalan yang ke arah kanan.
Pemulung ini memulung sampah-sampah di sepanjang jalan yang dilaluinya. Pemulung tersebut harus menentukan jalan mana yang diambil untuk memperoleh rejeki yang lebih baik, di jalan yang sebelah kanan atau kiri. Pemilihan jalan ini akan menentukan rejekinya.
Betapa besar ketidakpastian rejeki yang akan diperoleh pemulung tersebut. Hal ini beda dengan orang yang bekerja kantoran yang paling tidak bisa membawa pulang gaji yang telah ditentukan.
Sudah sepantasnya kita, yang dikasih kesempatan oleh Allah untuk memperoleh rejeki yang lebih baik dibandingkan dengan pemulung tersebut, banyak-banyak bersyukur. Dan salah satu pelajaran yang dapat diambil adalah kita harus berani memutuskan jalan mana yang akan kita ambil (tentu saja dengan meminta petunjuk dari Allah, agar kita ditunjukkan jalan yang “benar”).
Posted in Corat-coret | 2 Comments »
June 21st, 2008
Demam Euro 2008 yang diadakan di Austria & Swiss mewabah di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali di Bandung. Pertandingan Euro ini dilaksanakan pada malam dan dini hari (Waktu Indonesia Barat), Pertandingan malam dimulai pukul 23.00, sedangkan pertandingan dini hari dimulai pukul 1.45. Sering kali, penulis menyempatkan nonton pertandingan-pertandingan Euro, baik itu yang malam maupun dini hari.
Setelah pertandingan berjalan beberapa hari, penulis berpikir, kenapa kok penulis menyempatkan diri (bela-belain) bangun pukul 1.30 (atau malah tidak tidur) untuk nonton pertandingan Euro 2008. Alasan yang mungkin adalah karena (hampir semua) pertandingan di Euro 2008 seru, event ini diadakan 4 tahun sekali (sayang kalau dilewatkan), dll.
Bagi sebagian orang, bangun dini hari biasanya digunakan untuk melakukan ibadah (tahujjud). Sementara, penulis bangun dini hari untuk nonton bola. Kedua hal ini sungguh sangat ironis, penulis bela-belain bangun dini hari untuk nonton bola, sementara itu ada orang yang bela-belain bangun dini hari untuk tahujjud. Astaghfirullah Hal ‘Azhim… Ibadah (tahajjud) dikalahkan oleh pertandingan bola
Dari sini dapat dilihat bahwa penulis (masih) lebih mengutamakan hal-hal diluar ibadah. Mungkin tidak hanya dalam kasus nonton bola saja, masih banyak perbuatan yang lebih mementingkan kebutuhan “emosi” dibandingkan dengan ibadah. Semoga kita, khususnya penulis, dapat belajar dari tulisan ini dan dapat meningkatkan kualitas & kuantitas ibadah (wajib maupun sunnah)… Amin…
(Tambahan)
Kalau penulis melihat dan berpikir dari sisi positif, dengan terbiasanya bangun dini hari untuk nonton Euro selama 1 bulan, mungkin penulis akan terbiasa bangun dini hari setelah Euro selesai, dan waktu dini hari yang biasanya digunakan untuk nonton bola dialihkan menjadi ibadah (tahajjud, dzikir, dll).
*Hehehehe… mungkin ada yang berpikiran bahwa penulis hanya mencari pembenaran
*
Posted in Corat-coret | No Comments »
June 12th, 2008
Waktu nongkrong, kalau boso suroboyoane cangkruk, sehabis mandi pagi setengah siang tadi tiba-tiba lamunan mengarah ke arah syirik kecil. Betapa sering saya mendengar atau bahkan mengatakan hal-hal yang menjadi syirik kecil. Misalnya saja:
Apabila kita sakit, kemudian kita berobat (minum obat atau ke dokter), kemudian kita sembuh dan berkata saya “sembuh berkat minum obat X” atau “saya sembuh setelah berobat ke dokter X”.
Padahal seperti telah kita ketahui bersama bahwa yang menyembuhkan itu hanya satu, hanya Allah. Allah menyembuhkan kita melalui perantaraan obat/dokter. Segala sesuatu hanya dapat terjadi atas seizin Allah, termasuk kesembuhan. Memang terkadang kita tidak sadar kata-kata tersebut meluncur begitu cepat dari mulut kita.
Dan masih banyak contoh-contoh yang lain disekitar kita yang sering terjadi dan mengarah ke arah syirik kecil.
Mungkin penulis juga (sering) melakukan hal tersebut, semoga saja kita terhindar dari syirik kecil, amin… ^-^
Posted in Corat-coret | 3 Comments »
June 2nd, 2008
Waktu membaca sebuah buku yang berjudul “Anekdot Sufi dari Nasrudin“, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya, salah satunya adalah:
Kehancuran masyarakat adalah berpangkal dari kebejatan para penguasanya.
Sedangkan kebejatan penguasa berpangkal pada kerusakan moral para ulama.
Sedangkan kerusakan moral ulama adalah berpangkal pada kegandrungan mereka terhadap harta, posisi strategis (pangkat) dan kemewahan dunia.Padahal, hati siapa saja yang telah dikuasai oleh gandrung dunia, ia tidak akan mungkin bisa membela kepentingan agama Allah, kendati terhadap rakyat jelata, apalagi menghadapi para penguasa dan pemerintah yang zalim.
- Al Ghazali -
Kalimat-kalimat diatas sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini, dan mungkin menjadi (salah satu) penyebab kehancuran/keterpurukan Indonesia.
My first post ^_^
Posted in Corat-coret | 2 Comments »