Dzikir Menggunakan Tasbih

Pada suatu malam antara maghrib dan isya’ di suatu masjid yang cukup terkenal di Bandung, tiba-tiba saya didatangi seorang pengurus masjid itu dan terjadilah percakapan antara saya (A) dengan pengurus masjid tersebut (sebut saja X) :D

Berikut ini cuplikan percakapan tersebut (kurang lebih, tapi intinya adalah):

X: Kenapa anda menggunakan tasbih?
A: Untuk menghitung waktu berdzikir
X: Kenapa anda tidak menggunakan tangan saja untuk menghitung? Berdzikir menggunakan tasbih itu TIDAK BOLEH, karena menyerupai alat ibadah agama lain (umat agama lain ada yang menggunakan tasbih atau alat hitung menyerupai tasbih) dan Nabi (Muhammad) dulu tidak menggunakan tasbih tapi menggunakan tangan.
A: Saya mudah lupa kalau menghitung pake tangan (hehehe maklum pelupa :P ), menurut saya, penggunaan tasbih boleh-boleh saja, kan cuma sebagai alat bantu saja. Dan saya akan tetap pake tasbih sebagai alat hitung berdzikir…
X: Kalau anda tetap pakai tasbih, sebagai pengurus masjid, saya melarang anda menggunakan tasbih di masjid ini. (Karena akan mempengaruhi jamaah yang lain menggunakan tasbih juga)
A: Baiklah…

Sejak saat itu, pada saat berdzikir di masjid itu saya tidak pernah pake tasbih lagi, biar tidak terjadi “hal-hal yang tidak diinginkan” :D Dan saya jadi malas ke masjid itu lagi :D Dalam hal ini, perbedaan pendapat yang terjadi sangatlah wajar, bagaimanapun juga, X ini adalah pengurus masjid, sedangkan saya adalah jamaah biasa :D Saya menghormati keputusan X tersebut.

Menurut pendapat saya, tasbih yang saya gunakan untuk berdzikir sebagai alat bantu hitung (sederhana) yang mudah dibawa, digunakan. Terus terang saja, saya memang sering lupa kalau menghitung menggunakan tangan. Teknologi sederhana yang berupa tasbih kenapa tidak boleh digunakan. Bukannya dalam menjalankan ibadah, kita banyak juga yang menggunakan alat bantu (modern) yang juga digunakan oleh umat agama yang lain, atau malahan diciptakan oleh umat agama lain.

-bersambung- :P

23 Responses to “Dzikir Menggunakan Tasbih”

  1. mas satro Says:

    Wah……gung…..pengalamanmu sungguh luar biasa :), padahal perasaanku n setahuku dzikir menggunakan Tasbih GA MASALAH, yang penting gimana niat kita, berdoa kepada ALLAH. Kenapa orang mau berdoa kok dipersulit dengan tasbih….?, klo menurut aku sungguh pemikiran yang sempit melarang berdzikir menggunakan tasbih. Tapi menurutku ga masalah sing penting NIAT n DOA yang baik (apa ada doa yang ga baik ya hehehe)…. GITU AJA KOK REPOT :)

  2. admin Says:

    Setuju Oom… :)
    Terserah orang itu mau menggunakan alat bantu hitung apa untuk dzikir, mau pake tangan, tasbih, kalkulator, atau bahkan komputer juga boleh-boleh saja, silahkan… Monggo… :)
    Mungkin suatu saat nanti akan diciptakan alat dzikir menggunakan BCI (Brain Computer Interface), jadi ga perlu ngitung2 lagi pake tangan, tasbih, kalkulator, atau alat hitung yang lain, nanti komputer akan menambah (increment) sendiri jumlah bacaan dzikir yang telah kita ucapkan. D

  3. iwan prasetiyo Says:

    masjid ndi gung? :D , ben aku iso antisipasi

  4. agung w. setiawan Says:

    Mosok sampean ga ngerti mas? Arek ITB kok ga ngerti :P aku ga akan nyebut jeneng masjide, sampean wis pasti ngerti :D
    Tapi bisa jadi yang melarang itu hanya seorang oknum pengurus masjid, bisa jadi oknum itu sekarang sudah lulus, jadi tidak di masjid itu lagi, jadi tidak ada yang melarang pake tasbih lagi.

  5. faisol Says:

    terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Berdzikir Membuat Hati Tetram, Benarkah?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/berdzikir-membuat-hati-tentram-benarkah.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  6. agung w. setiawan Says:

    Terima kasih juga Pak/Mas Faisol sudah mampir ke http://awsetiawan.web.id
    Tulisan Pak/Mas Faisol keren, pake nyebutin dalil2, tulisan saya ga ada dalil2nya :D Kalau saya ditanya masalah dalil2 saya kurang tau :D

  7. iwan prasetiyo Says:

    oh…ketokane ngerti, masjid nang ngarep tah? wah mosok sih ono pelarangan, bukane masjid iku paling moderat?

  8. agung w. setiawan Says:

    iyo bener Mas, masjid ngarep…
    Hehehe paling moderat sak kampus kali ya… :D
    Mungkin itu hanya oknum “pengurus” saja, soalnya yang tidak memperbolehkan itu adalah “pengurus” yang berstatus mahasiswa, waktu saya mengemukakan hal ini kepada (the real) pengurus yang berstatus dosen, pengurus (dosen) itu juga kaget kalo ada pelarangan pake tasbih :D Jadi, apakah “pengurus” yang berstatus mahasiswa tersebut bisa disebut sebagai pengurus masjid yang sebenarnya? :D Waktu itu dan sampai sekarang males ke masjid itu lagi, ga moderat, kalau sikapnya seperti itu kan menjadi masjid hanya untuk golongan-golongan tertentu saja bukan sebagai masjid kampus :D

  9. syihab Says:

    he he agung w . setiawan…sama saya juga pelupa n pake tasbih…dan saya paling suka di kritik jika kwalitas dzikir saya yang di koreksi…bukan tasbihnya atau alat hitung….sebab kwalitas dzikir (mengingat Allah ) penting…menurut saya yang awam….

  10. Abu Nayla Says:

    Akhi, maaf sebelumnya bukanya mau ikut campur. akan tetapi seandainya apa yang anda ceritakan benar, mengapa anda tidak coba mencari tau apa benar hal tersebut dilarang? apa benar Rosululloh tidak menggunakan biji tasbih? apakah sunnah atau tidak memakai biji tasbih? apakah dengan alasan sering lupa atau lebih enak, kita bebas beribadah sesuai dengan hawa nafsu kita? coba anda keluarkan dalil dalil tentang bolehnya berdzikir dengan biji tasbih, kalau seandainnya sudah kan enak diskusinya…

  11. wong dheso Says:

    Saya juga punya teman ketika sedang berzikir pakai tasbih sama yang baru ngaji di katakan bid’ah ngak ada tuntunannya lalu teman saya bertanya ” yang benar gimana ” lalu yang baru ngaji mengatakan dengan tangan lalu teman saya tanya lagi ” bagaimana caranya ” lalu yang baru ngaji menunjukkan caranya ,setelah itu taman saya tanya lagi ” apakah benar cara tersebut seperti itu cara Rasulullah SAW maka yang baru ngaji ngak bisa menjawab

  12. wong dheso Says:

    Bila antum di kritik biar saja sekarang yang suka mengritik sudah pada mau zikir panjang habis sholat padahal dulu anti banget dengan zikir karena saya sering sholat berjamaah dengan yang suka mengritik,tunggu saja suatu saat nanti yang suka mengritik akan tasbih untuk mengingat zikir panjangnya dan kalau mau baca yang ini http://www.alinshof.com/2009/12/fenomena-salafy-dan-manhaj-kritik.html

  13. WONGDHESO Says:

    Bacalah ini http://www.alinshof.com/2009/12/menjelek-menjelekkan-satu-sama-lain-dan.html?

  14. hans Says:

    sing penting dzikir dari pada gak dzikir

  15. wong dheso Says:

    Mufti Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan tasbih bukan termasuk bid’ah hanya merupakan sarana mau baca selengkapannya di http://www.islamhouse.com/p/278161

  16. wong dheso Says:

    Bila antum punya waktu datangi Majelisnya di http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/index/92/Dzikir-Menggunakan-Tasbeh

  17. wong dheso Says:

    Saya pernah menyaksikan orang berilmu setelah selesai sholat wajib tidak mengeluarkan Tasbih malah mengeluarkan HP saya tak akan menegur orang berilmu tersebut dengan kata2 ” mas zikir jangan mengeluarkan HP ngak ada tuntunannya mengeluarkan HP setelah selesai sholat “

  18. wong dheso Says:

    Akhirnya juga menampilkan Fatwa Ulamannya tentang tasbeh di webnya http://abuubaidah.wordpress.com/2008/12/19/apakah-tasbeh-bidah/

  19. salman Says:

    sebenarnya tasbih bukan bid’ah sebagai alat htung saja,nah yang jadi masalah itu hitungannya, misalnya antum membatasi suatu zdikir dengan hitungan maka harus bisa menunjukkan dalilnya,tapi kalo antum berzdikir menggunakan alat bantu tasbih dengan zdikir yg di hitung seberti yg di ajarka Rosulillah ya g paa2 cuma ibadah yg benar itu yg di contohkan rosul

  20. hatta Says:

    wah iki pak faisol sing sering diskusi nang forum NU ta? wah iki wonge wis duwur levele gung…

    hebat awakmu disamperin wong iki :D

  21. khuya_2 Says:

    Tasbih adalah semacam kalung sebagai alat bantu untuk berdoa dalam agama Islam. Tasbih kemungkinan merupakan contoh rosario yang digunakan oleh kaum Kristen, terutama Katolik Roma. Di sisi lain tasbih sendiri kemungkinan besar berdasarkan Mala atau Ganitri yang digunakan oleh kaum Hindu dan Buddha.

    Biasanya tasbih dibuat dari kayu, namun ada pula tasbih yang dibuah dari bji-biji zaitun. Umumnya sebuah tasbih terdiri dari 99 batu. Angka 99 ini melambangkan 99 Asma Allah. Namun ada pula tasbih yang terdiri dari 33 atau 11 batu-batuan. Pada kedua kasus terakhir ini, sang pengguna harus mengulangi lingkaran tiga atau sembilan kali. Meskipun begitu, ada pula tasbih yang terdiri dari 100 atau 1.000 batu.

    Diperkirakan umat Muslim mencontoh penggunaan tasbih dari umat Buddha dan kemudian oleh para ksatria Perang Salib dibawa ke Eropa sebagai rosario. Paus Pius V menulis pada tahun 1596 di sebuah bul bahwa Dominicus, pendiri ordo Dominikan, memperkenalkan rosario pada tahun 1221 di Eropa.

    Konon pada masa awal penyebaran Islam, para jemaat Islam mengaji Asma-Asma Allah dengan bantuan batu-batu kerikil kecil. Karena Nabi Muhammad SAW kemungkinan besar tidak menggunakan tasbih, maka benda ini oleh kaum Wahhabi dianggap sebagai pembaharuan non-Islami.

    Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Tasbih

  22. Nunu Tasbih Says:

    Antara pro dan kontra, Allah maha tau..
    saya hanya jualan saja… :)

  23. wong dheso Says:

    Saya dapat oleh2 tasbih yang baru pulang naik haji jadi para Mufti dan askar di Arab Saudi tidak merazia para pedagang yang menjual tasbih hanya saja di tempat kita yang merazia tasbih di masjid

Leave a Reply