Archive for June, 2008

Istighotsah

Tuesday, June 24th, 2008

Saya sudah sangat sering mendengar kata istighotsah tapi belum tapi artinya. Malah tidak hanya mendengar, bahkan saya punya fotokopi bacaan istighotsah :D Karena penasaran, akhirnya hari ini saya mencari arti kata istighotsah di google.com dan memperoleh jawaban bahwa arti istighotsah adalah memohon bantuan.

Memohon bantuan, bagus juga arti istighotsah. Menurut saya, fotokopian dibawah ini merupakan salah satu contoh bacaan saja. Pembaca dapat menambah atau mengurangi bacaan-bacaannya atau tidak melakukan perubahan sama sekali.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa zaman Nabi dulu tidak ada acara-acara istighotsah. Menurut pendapat saya, istighotsah adalah berdoa, lha wong artinya saja memohon bantuan/pertolongan (Allah), hal ini tidak jauh dengan berdoa yang bertujuan untuk memohon pertolongan Allah. Kenapa kok dilakukan Istighotsah Kubro? Namanya juga berdoa, memohon pertolongan Allah, lebih baik kalau dilakukan bersama-sama (berjamaah). Berdoa, istighotsah, dzikir, sholat, atau amal ibadah yang lain, akan lebih utama apabila dilakukan secara bersama-sama.

(Salah satu) Bacaan Istighotsah

Pemulung di Persimpangan Jalan

Saturday, June 21st, 2008

Pada suatu siang hari yang cerah di suatu persimpangan jalan ada seorang pemulung. Di persimpangan jalan, pemulung ini berhenti beberapa dan kelihatan berpikir akan memilih jalan yang mana, akankah melangkahkan kaki ke jalan disebelah kiri ataukah yang kanan. Kemudian pemulung ini memutuskan berjalan ke arah kiri. Setelah berjalan 2-3 langkah, pemulung ini berhenti dan berpikir kembali. Akhirnya, pemulung ini berbalik arah dan mengambil jalan yang ke arah kanan.

Pemulung ini memulung sampah-sampah di sepanjang jalan yang dilaluinya. Pemulung tersebut harus menentukan jalan mana yang diambil untuk memperoleh rejeki yang lebih baik, di jalan yang sebelah kanan atau kiri. Pemilihan jalan ini akan menentukan rejekinya.

Betapa besar ketidakpastian rejeki yang akan diperoleh pemulung tersebut. Hal ini beda dengan orang yang bekerja kantoran yang paling tidak bisa membawa pulang gaji yang telah ditentukan.

Sudah sepantasnya kita, yang dikasih kesempatan oleh Allah untuk memperoleh rejeki yang lebih baik dibandingkan dengan pemulung tersebut, banyak-banyak bersyukur. Dan salah satu pelajaran yang dapat diambil adalah kita harus berani memutuskan jalan mana yang akan kita ambil (tentu saja dengan meminta petunjuk dari Allah, agar kita ditunjukkan jalan yang “benar”).

Tahajjud VS Sepak Bola (Euro 2008)

Saturday, June 21st, 2008

Demam Euro 2008 yang diadakan di Austria & Swiss mewabah di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali di Bandung. Pertandingan Euro ini dilaksanakan pada malam dan dini hari (Waktu Indonesia Barat), Pertandingan malam dimulai pukul 23.00, sedangkan pertandingan dini hari dimulai pukul 1.45. Sering kali, penulis menyempatkan nonton pertandingan-pertandingan Euro, baik itu yang malam maupun dini hari.

Setelah pertandingan berjalan beberapa hari, penulis berpikir, kenapa kok penulis menyempatkan diri (bela-belain) bangun pukul 1.30 (atau malah tidak tidur) untuk nonton pertandingan Euro 2008. Alasan yang mungkin adalah karena (hampir semua) pertandingan di Euro 2008 seru, event ini diadakan 4 tahun sekali (sayang kalau dilewatkan), dll.

Bagi sebagian orang, bangun dini hari biasanya digunakan untuk melakukan ibadah (tahujjud). Sementara, penulis bangun dini hari untuk nonton bola. Kedua hal ini sungguh sangat ironis, penulis bela-belain bangun dini hari untuk nonton bola, sementara itu ada orang yang bela-belain bangun dini hari untuk tahujjud. Astaghfirullah Hal ‘Azhim… Ibadah (tahajjud) dikalahkan oleh pertandingan bola :(

Dari sini dapat dilihat bahwa penulis (masih) lebih mengutamakan hal-hal diluar ibadah. Mungkin tidak hanya dalam kasus nonton bola saja, masih banyak perbuatan yang lebih mementingkan kebutuhan “emosi” dibandingkan dengan ibadah. Semoga kita, khususnya penulis, dapat belajar dari tulisan ini dan dapat meningkatkan kualitas & kuantitas ibadah (wajib maupun sunnah)… Amin…

(Tambahan)
Kalau penulis melihat dan berpikir dari sisi positif, dengan terbiasanya bangun dini hari untuk nonton Euro selama 1 bulan, mungkin penulis akan terbiasa bangun dini hari setelah Euro selesai, dan waktu dini hari yang biasanya digunakan untuk nonton bola dialihkan menjadi ibadah (tahajjud, dzikir, dll).
*Hehehehe… mungkin ada yang berpikiran bahwa penulis hanya mencari pembenaran :P *

Syirik Kecil

Thursday, June 12th, 2008

Waktu nongkrong, kalau boso suroboyoane cangkruk, sehabis mandi pagi setengah siang tadi tiba-tiba lamunan mengarah ke arah syirik kecil. Betapa sering saya mendengar atau bahkan mengatakan hal-hal yang menjadi syirik kecil. Misalnya saja:
Apabila kita sakit, kemudian kita berobat (minum obat atau ke dokter), kemudian kita sembuh dan berkata saya “sembuh berkat minum obat X” atau “saya sembuh setelah berobat ke dokter X”.

Padahal seperti telah kita ketahui bersama bahwa yang menyembuhkan itu hanya satu, hanya Allah. Allah menyembuhkan kita melalui perantaraan obat/dokter. Segala sesuatu hanya dapat terjadi atas seizin Allah, termasuk kesembuhan. Memang terkadang kita tidak sadar kata-kata tersebut meluncur begitu cepat dari mulut kita.

Dan masih banyak contoh-contoh yang lain disekitar kita yang sering terjadi dan mengarah ke arah syirik kecil.

Mungkin penulis juga (sering) melakukan hal tersebut, semoga saja kita terhindar dari syirik kecil, amin… ^-^

Kehancuran/Keterpurukan Indonesia

Monday, June 2nd, 2008

Waktu membaca sebuah buku yang berjudul “Anekdot Sufi dari Nasrudin“, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya, salah satunya adalah:

Kehancuran masyarakat adalah berpangkal dari kebejatan para penguasanya.
Sedangkan kebejatan penguasa berpangkal pada kerusakan moral para ulama.
Sedangkan kerusakan moral ulama adalah berpangkal pada kegandrungan mereka terhadap harta, posisi strategis (pangkat) dan kemewahan dunia.Padahal, hati siapa saja yang telah dikuasai oleh gandrung dunia, ia tidak akan mungkin bisa membela kepentingan agama Allah, kendati terhadap rakyat jelata, apalagi menghadapi para penguasa dan pemerintah yang zalim.

- Al Ghazali -

Kalimat-kalimat diatas sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini, dan mungkin menjadi (salah satu) penyebab kehancuran/keterpurukan Indonesia.

My first post ^_^