Archive for the ‘Corat-coret’ Category

Puasa (Tidak Hanya) Menahan Lapar dan Haus

Wednesday, August 4th, 2010

Sebentar lagi kita akan menyongsong Bulan Ramadhan, bulan penuh keAGUNGan dan keberkahan. Di bulan ini pula umat islam melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Menahan hawa nafsu (makan, minum, dll) dari subuh - maghrib. Saya yakin kalau hampir dari kita semua pasti luluslah kalo cuma menahan hawa nafsu makan dan minum, tapi bagaimana dengan mengontrol emosi? Sebenarnya nafsu seperti emosi inilah yang lebih susah diatur. Tidak jarang kita tidak bisa menahan emosi dengan menggunakan kedok agama (islam) untuk melakukan tindakan kekerasan, baik fisik maupun psikologis. Kalau dipikir2 semakin banyak orang puasa yang hanya mendapatkan lapar dan haus. Semoga kita tidak termasuk golongan tsb. Amin.

Nabi Muhammad adalah seseorang yang berakhlak mulia, setiap tindakan dan perkataan beliau tidak pernah dipengaruhi oleh nafsu atau emosi. Marilah kita sama2 merenung dan melakukan evaluasi diri, seberapa sering kita dipengaruhi nafsu dalam setiap tindakan dan perkataan. Mudah2an dengan adanya puasa di Bulan Ramadhan, kita dapat mengontrol hawa nafsu, bukan dikontrol oleh hawa nafsu.

Panjang Umur

Friday, May 29th, 2009

Waktu berulang tahun, saya mendapatkan ucapan selamat dengan (salah satu) ucapan doa “Semoga panjang umur” dari seorang kawan. Saya langsung meminta agar tidak didoakan itu, karena saya tidak ingin berumur terlalu panjang melebihi umur Rasulullah, umur yang cukup saja, tidak terlalu panjang dan pendek. Kualitas umur jauh lebih penting daripada kuantitas, syukur2 bisa mendapatkan keduanya tapi itu susah :D Kualitas disini adalah umur yang kita miliki bisa membawa berkah.

Berdasarkan pengamatan saya, umur manusia itu memiliki bentuk kurva parabola terbalik, sumbu X adalah umur dan sumbu Y adalah fisik. Puncaknya adalah pada saat X = 30 sampai 40 tahun, setelah itu kondisi fisik akan turun. Dan lama-lama akan semakin lemah, kita akan merasa seperti anak kecil yang akan memerlukan perhatian/bantuan dari orang lain. Apalagi kalo sudah sakit-sakitan. Saya tidak ingin (terlalu) membebani orang lain dengan umur panjang.

Akhirnya kawan saya tsb mengganti doanya menjadi “Semoga sehat dan sukses selalu”. Saya senang dengan doa yang baru tsb. Terima kasih semuanya :)

Ketidakabadian

Friday, May 29th, 2009

Pada hari Jum’at, 13 Februari 2009 saya melakukan transaksi di BNI ITB dan dikasih sekuntum bunga mawar putih sebagai tanda cinta dari BNI ke nasabah karena besoknya adalah hari valentine dengan kartu ucapan “From BNI with Love” :D

Okelah, lupakan masalah valentine-valentinenya, saya bersikap masa bodoh dengan hari valentine, mau ada apa ga ya terserah saja :D Disini saya ingin menulis mengenai bunga mawarnya. Memang bunga mawarnya (terlihat) cantik saat mekar (sempurna). Tapi seberapa lama kecantikan bunga tersebut dapat bertahan? Pasti bunga mawar tsb akan layu dan tidak cantik lagi dan akhirnya kering (mati). Dan memang betul, tidak sampai seminggu kemudian bunga mawar tersebut sudah kering. Begitupula manusia, manusia yang cantik/tampan cepat atau lambat pasti akan kehilangan kecantikan/ketampanannya. Jadi tidak usah sombong bagi yang cantik/tampan, baik yang merasa cantik/tampan maupun yang benar-benar cantik/tampan.

Di dunia ini tidak ada yang abadi (kecuali amal perbuatan, baik maupun buruk), pada akhirnya semua pasti akan musnah.

Trotoar Bandung

Tuesday, January 20th, 2009

Apakah anda pernah mendengar program 10.000 langka per hari?

Program itu adalah salah satu program menjaga kesehatan tubuh yang murah meriah, anda tidak perlu datang ke pusat kebugaran atau mengeluarkan uang sepeser pun untuk dapat mengikuti program tersebut. Apabila bersepeda, anda perlu modal beli sepeda. Tapi apa jadinya apabila tempat buat para pejalan kaki (trotoar) digunakan untuk hal-hal yang bukan peruntukannya. Tentu hal tersebut menjadi sangat mengganggu para pejalan kaki.

Kondisi sarana prasarana trotoar yang ada di Bandung sangat tidak bagus. Memang sekarang lebih bagus daripada dulu, para PKL yang mangkal di trotoar sepanjang jalan dago (Ir. H. Juanda) ditertibkan. Tetapi ada saja PKL yang memanfaatkan trotoar untuk berjualan.

PKL ditertibkan, tapi di Bandung ada hotel berbintang kelas internasional yang memanfaatkan trotoar untuk memasang “tugu” nama hotel tersebut (lihat gambar dibawah) yang memakan tempat tepat diatas trotoar, ruang untuk pejalan kaki sangat sempit, kalaupun ada harus memutar.

Bayangin aja, hotel Holiday Inn Bandung tersebut melanggar aturan, tapi tidak ditertibkan, mungkin hotel tersebut sudah punya ijin dari pemerintah kota Bandung untuk membuat “tugu” nama hotel mereka. Jadi siapa yang salah dalam hal ini? Yang BODOH siapa? Pemerintah kota Bandung kah? atau Holiday Inn (hotel berbintang level internasional) kah?

Yang pasti, baik pemerintah kota Bandung sebagai yang “punya” kota dan Holiday Inn yang punya “tugu nama” tersebut SALAH. Kedua pihak telah MERAMPAS HAK-HAK PEJALAN KAKI.

Semoga aja kita bisa berjalan kaki di trotoar dengan nyaman tanpa ada gangguan :D

Kapankah itu bisa terjadi? :D

Apakah Bulan Ramadhan Perlu Dihormati?

Saturday, August 30th, 2008

Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang Bulan Ramadhan selalu saja ada aksi (demo, sweeping, atau tindakan lain untuk menutup tempat2 hiburan) atau tulisan (spanduk, baligo, dll) yang mengajak untuk menghormati Bulan (Suci) Ramadhan. Melihat atau membaca hal-hal tersebut, saya jadi bertanya-tanya, apakah Bulan (Suci) Ramadhan perlu dihormati? atau apakah Bulan (Suci) Ramadhan minta dihormati?

Menurut saya, Bulan (Suci) Ramadhan tidak perlu dihormati atau minta dihormati, karena ini hanya sekedar bulan, salah satu bulan penanggalan hijriyah. Kalau didalam bulan puasa tersebut memang jelas ada keistimewaannya (umat muslim diwajibkan puasa satu bulan penuh, bulan turunnya Al-Qur’an, didalamnya ada malam lailatul qodar). Tetapi apakah pantas umat islam melakukan aksi (tidak simpatik) dengan melakukan sweeping,long march, atau apapun yang mengakibatkan kerugian untuk orang lain? Kenapa saya menyebutkan kata-kata “tidak simpatik”, karena banyak aksi-aksi itu merugikan orang lain, sweeping menimbulkan ketakutan (orang seakan-akan diteror, kalau sudah menjadi diteror, akan menjadi teroris), longmarch akan menimbulkan kemacetan yang merugikan waktu orang lain dan kerugian negara di subsidi BBM karena konsumsi BBM akan naik karena terbuang percuma akibat kemacetan yang timbul.

Bagi yang terbiasa puasa sunnah di luar Bulan (Suci) Ramadhan, mungkin akan menganggap puasa di Bulan (Suci) Ramadhan lebih ringan godaannya dibandingkan dengan puasa di luar Bulan (Suci) Ramadhan, karena kondisi Bulan (Suci) Ramadhan lebih kondusif untuk melakukan puasa. Banyak tempat-tempat makan yang tutup, atau kalaupun buka ditutup. Hampir semua orang juga puasa, baik di kantor maupun di jalan, intinya tidak ada orang makan terang-terangan di depan orang lain.

Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan, bagi yang menjalankan. Puasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi menahan hawa nafsu (ini yang susah :D ). Jangan sampai kita melakukan hal-hal yang tidak simpatik yang dapat merugikan orang lain, kita harus dapat menahan diri dari segala godaan (setan, setan berwujud manusia, manusia itu sendiri, dll)

Pencipta Sajak “Tombo Ati” (Obat Hati)

Sunday, July 20th, 2008

Masih dari referensi Buku Gus Dur (Islamku, Islam Anda, Islam Kita). Saya baru mengetahui “sejarah” singkat sajak Tombo Ati.

Tombo Ati (Obat Hati) adalah nama sebuah sajak berbahasa Arab ciptaan sayyidina Ali, yang oleh KH. Bisri Mustofa dari Rembang (ayah KH. A. Mustofa Bisri) diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dengan menggunakan judul tersebut.

Emang “sejarahnya” singkat banget yak…. Tapi paling tidak kita sudah mengetahui siapa pengarang dan penerjemah sajak tersebut.

Berbeda Pendapat, Bukan Terpecah

Saturday, July 19th, 2008

Lagi-lagi dari buku “Islamku, Islam Anda, Islam Kita” karya K.H. Abdurrahman Wahid. Salah satu tulisan Gus Dur yang menarik berjudul Tata Krama dan ‘Ummatan Wahidatan. Di tulisan itu ada perbedaan pendapat antara K.H. M. Hasyim Asy’ari dan wakil beliau, Kyai Faqih. Berikut cuplikan tulisan tersebut:

Dalam terbitan perdana sebuah jurnal ilmah bulanan Nahdlatul Ulama (NU), yang diterbitkan pada 1928 dan bertahan sampai tahun 60-an, K.H. M. Hasyim Asy’ari (Rois ‘Am PBNU) menuliskan fatwa” bahwa kentongan (alat dari kayu yang dipukul hingga berbunyi nyaring) tidak diperkenankan untuk memanggil shalat dalam hukum Islam. Dasar dari pendapatnya itu adalah kelangkaan hadits Nabi; biasanya disebut sebagai tidak adanya teks tertulis (dalil naqli) dalam hal ini.

Dalam penerbitan bulan berikutnya, pendapat tersebut disanggah oleh wakil beliau, Kyai Faqih (Wakil Rois ‘Am PBNU) dari Maskumambang, Gresik, yang menyatakan bahwa kentongan harus diperkenankan, karena bisa dianalogikan atau di-qiyas-kan kepada beduk sebagai alat panggil shalat. Karena beduk diperkenankan, atas adanya sumber tertulis (dalil naqli) berupa hadits Nabi Muhammad SAW mengenai adanya atau dipergunakannya alat tersebut pada zaman nabi, maka kentongan harus diperbolehkan.

Segera setelah uraian Kyai Faqih Maskumambang itu muncul, KH. M. Hasyim Asy’ari segera memanggil para ulama se-Jombang dan para santri senior beliau untuk berkumpul di pesantren Tebu Ireng, Jombang. Ia pun lalu memerintahkan kedua artikel tersebut untuk dibicarakan kepada para hadirin. Setelah itu, beliau menyatakan mereka dapat menggunakan salah satu dari kedua alat pemanggil tersebut dengan bebas. Yang beliau minta hanyalah satu hal, yaitu hendaknya di Mesjid Tebu Ireng, Jombang kentongan itu tidak digunakan selama-lamanya. Pandangan beliau itu mencerminkan sikap saling menghormati pendirian Kyai Faqih dari Maskumambang tersebut, dan bagaimana sikap itu didasarkan pada “kebenaran” yang beliau kenal.

Dalam bulan Maulud/Rabi’ul Awal berikutnya, KH. M. Hasyim Asy’ari diundang berceramah di Pesantren Maskumambang. Tiga hari sebelumnya, para utusan Kyai Faqih Maskumambang menemui para ketua/pemimpin ta’mir mesjid dan surau yang ada di kabupaten Gresik dengan membawa pesan beliau: selama KH. M. Hasyim Asy’ari berada di kawasan kabupaten tersebut, semua kentongan yang ada harus diturunkan dari tempat bergantungnya alat itu. Sikap ini diambil beliau karena penghormatan beliau terhadap Kyai Hasyim Asy’ari, yang bagaimanapun adalah atasan beliau dalam berorganisasi. Meyakini sebuah kebenaran, tidak berarti hilangnya sikap menghormati pandangan orang lain, sebuah sikap tanda kematangan pribadi kedua tokoh tersebut.

Alangkah indahnya kalau pemimpin negara, pemimpin organisasi islam, atau pemimpin apapun mencontoh sikap K.H. M. Hasyim Asy’ari dan Kyai Faqih di atas.

Berbeda pendapat merupakan hal yang wajar, karena manusia diciptakan dilengkapi dengan Akal (pikiran) yang dipergunakan untuk berpikir. Pikiran/pendapat masing-masing orang bisa berbeda-beda, dan kita tidak bisa memaksakan pikiran/pendapat ke orang lain, yang bisa kita berikan adalah dasar/argumen kenapa kita berpikirian/berpendapat seperti itu. Terserah masing-masing individu mau mengikuti pendapat yang mana, atau bahkan mempunyai pendapat sendiri.

Berbeda pendapat bukan berarti harus terpecah atau memecahkan (memisahkan) diri. Dalam banyak kasus di negeri ini, berbeda pendapat kemudian terpecah. Contohnya adalah partai, banyak sekali partai yang pecah karena perbedaan pendapat. Terkadang perbedaan pendapat itu diikuti dengan tindak kekerasan.

Semoga ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama, terutama saya sendiri mengenai perbedaan pendapat.

Tarawih 20 Raka’at

Wednesday, July 9th, 2008

Sekitar 40 hari lagi kita memasuki bulan ramadhan, yang artinya semua umat Islam di seluruh dunia (yang sudah memenuhi syarat) diwajibkan untuk melakukan ibadah puasa wajib. Di bulan tersebut ada satu amalan ibadah sunnah yang ada hanya di bulan ramadhan, yaitu sholat tarawih. Sholat tarawih biasanya dilakukan dalam 8, 20, dan 36 raka’at. Saya baru tahu, setelah sekian lama saya (mayoritas) menjalankan sholat tarawih 20 raka’at (kalau lagi males sih biasanya 8 rakaat :D ), bahwa salah satu penganjur sholat tarawih 20 rakaat adalah ulama besar Ibnu Taimiyyah. Saya mengetahuinya setelah membaca catatan kaki yang terdapat dalam buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita karya K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Tahlil

Wednesday, July 9th, 2008

Hari sabtu malam, 5 Juli 2008, saya menyempatkan diri jalan-jalan ke toko buku Gramedia dan Gunung Agung di Jalan Merdeka Bandung karena memang sedang pengen membaca buku :D Di Gramedia saya menemukan buku berjudul “Islamuku, Islam Anda, Islam Kita” yang merupakan kumpulan artikel/tulisan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terbitan The Wahid Institute. Waktu itu saya masih searching buku, kira-kira buku apa yang hendak saya beli. Kemudian melangkah lah saya ke Gunung Agung untuk searching buku juga. Di Gunung Agung saya tidak menemukan buku yang menarik. Akhirnya malam itu saya pulang tidak membawa buku, tapi membawa barang yang pengen saya beli dari dulu, kebetulan ada kesempatan beli barang tersebut :D

Setelah beberapa hari penasaran karena pengen baca buku karya Gus Dur tsb, maka selasa siang saya membeli buku tersebut. Soalnya waktu itu jalan-jalan ke BEC, sekalian aja mampir ke Gramedia :D

Di artikel/tulisan pertama, ada satu catatan kaki yang menarik, yaitu mengenai Ibnu Taimiyyah. Cuplikan catatan kaki tersebut menyinggung mengenai acara tahlil, berikut cuplikannya:

Ibnu Taimiyyah termasuk dalam barisan ulama yang “menghalalkan” ritual tahlil dan hadiah bacaan al-Qur’an kepada orang-orang yang sudah meninggal

Seminggu sebelumnya saya membaca buku Psikologi Kematian karya Prof. Komaruddin Hidayat yang salah satu babnya bertemakan tahlil, judul babnya adalah “Mengapa Diadakan Tahlilan”. Buku tsb. menyebutkan beberapa manfaat tahlilan ditinjau dari segi psikologis, yaitu:

  1. Keluarga yang ditinggalkan akan merasa terhibur dengan kedatangan tamu untuk ikut mengadakan doa bersama bagi almarhum(ah).
  2. Tahlilan juga menjadi ajang silaturahmi sesama tetangga dan teman dekat.
  3. Doa yang dipanjatkan secara ramai-ramai (bersama) dan tulus untuk almarhum(ah) insyaAllah didengar dan dikabulkan Allah.

Tahlilan bukanlah upacara kirim pahala, melainkan berdoa bersama untuk almarhum(ah). Yang tidak boleh adalah jangan sampai tahlilan tersebut memberatkan pihak keluarga yang ditinggal, misalnya harus memberi makan, dll.

Saya sangat setuju dengan pendapat/tulisan Prof. Komaruddin Hidayat tersebut. Dan saya baru mengetahui juga bahwa ulama besar, Ibnu Taimiyyah, merupakan salah satu ulama yang “menghalalkan” tahlilan. Tahlilan baik-baik saja dilaksanakan asal tujuannya baik, yaitu mendoakan alamarhum(ah) dan tidak memberatkan keluarga yang ditinggal. Mungkin keluarga yang ditinggal ingin menghormati orang yang datang tahlilan dengan memberi makan atau yang lain, tapi jangan terlalu berlebihan sehingga dapat memberatkan keluarga yang ditinggal.

Dzikir Menggunakan Tasbih

Tuesday, July 1st, 2008

Pada suatu malam antara maghrib dan isya’ di suatu masjid yang cukup terkenal di Bandung, tiba-tiba saya didatangi seorang pengurus masjid itu dan terjadilah percakapan antara saya (A) dengan pengurus masjid tersebut (sebut saja X) :D

Berikut ini cuplikan percakapan tersebut (kurang lebih, tapi intinya adalah):

X: Kenapa anda menggunakan tasbih?
A: Untuk menghitung waktu berdzikir
X: Kenapa anda tidak menggunakan tangan saja untuk menghitung? Berdzikir menggunakan tasbih itu TIDAK BOLEH, karena menyerupai alat ibadah agama lain (umat agama lain ada yang menggunakan tasbih atau alat hitung menyerupai tasbih) dan Nabi (Muhammad) dulu tidak menggunakan tasbih tapi menggunakan tangan.
A: Saya mudah lupa kalau menghitung pake tangan (hehehe maklum pelupa :P ), menurut saya, penggunaan tasbih boleh-boleh saja, kan cuma sebagai alat bantu saja. Dan saya akan tetap pake tasbih sebagai alat hitung berdzikir…
X: Kalau anda tetap pakai tasbih, sebagai pengurus masjid, saya melarang anda menggunakan tasbih di masjid ini. (Karena akan mempengaruhi jamaah yang lain menggunakan tasbih juga)
A: Baiklah…

Sejak saat itu, pada saat berdzikir di masjid itu saya tidak pernah pake tasbih lagi, biar tidak terjadi “hal-hal yang tidak diinginkan” :D Dan saya jadi malas ke masjid itu lagi :D Dalam hal ini, perbedaan pendapat yang terjadi sangatlah wajar, bagaimanapun juga, X ini adalah pengurus masjid, sedangkan saya adalah jamaah biasa :D Saya menghormati keputusan X tersebut.

Menurut pendapat saya, tasbih yang saya gunakan untuk berdzikir sebagai alat bantu hitung (sederhana) yang mudah dibawa, digunakan. Terus terang saja, saya memang sering lupa kalau menghitung menggunakan tangan. Teknologi sederhana yang berupa tasbih kenapa tidak boleh digunakan. Bukannya dalam menjalankan ibadah, kita banyak juga yang menggunakan alat bantu (modern) yang juga digunakan oleh umat agama yang lain, atau malahan diciptakan oleh umat agama lain.

-bersambung- :P